Hubungan Keluarga Bledug Kuwu, Makam Ki Ageng Selo, dan Makam Ki Bondan Kejawan (Lembu Peteng)

Dalam perkembangan islam di tanah jawa, ternyata banyak sekali membubuhkan mitos, budaya, adat, dan legenda yang beragam. Kali ini saya coba untuk mengupas sedikit tetang keluarga Aji Saka.

Diceritakan bahwa aji saka ini adalah sosok sakti yang mengalahkan dewata cengkar, penguasa medang kamulan yang suka memangsa manusia, sehingga setelah sepeninggal dewata cengkar diangkatah aji saka menjadi prabu sekaligus penguasa medang kamulan yang baru. Disinilah cerita Bledug kuwu berasal. Kisah ini berawal dari seekor ular naga yang mengaku anak dari aji saka, hal ini memang beralasan mengingat aji saka pernah mempunyai satu pengalaman unik. Pada suatu hari Aji Saka sedang menyepi di hutan dia melihat seekor ular naga yang sedang bertapa di sebuah goa. Aji Saka panas hatinya, ular tersebut dibunuhnya setelah ular naga itu mati terdengarlah suara . Suara tersebut berasal dari arwah ular naga yang mati itu. Dan umpatan ular itu nantinya menjadi kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka ingin nantinya menjadi kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka ingin menengok Nyai Janda Sengkeran. Dahulu ketika dia datang pertama kali di negara Medang Kamulan dia mengetahui Nyai Janda mempunyai seorang anak perempuan yang cantik, putri tersebut sekarang mestinya sudah dewasa anak itu bernama Retno Dewi Rarasati. Ketika dia sampai ke rumah janda tersebut dia melihat Retno Dewi Rarasati sedang menumbuk padi. Kainnya terbuka keatas dan kelihatanlah pahanya yang mulus. melihat hal tersebut Aji Saka jatuh birahinya. Dia tidak menahan asmaranya maka jatuhlah air maninya ke bumi kebetulan pada waktu itu ada seekor ayam kate putih simbar delima milik Nyi janda. Air mani itu dimakannya kemudian pergi. Dilain pihak Retno Dewi Rarasati melihat Aji Saka seperti kena gendam dan jatuh cinta nafsu asmaranya tidak tertahankan, maka noktahnya jatuh cinta. Nafsu asmaranya tidak tertahankan maka noktahnya jatuh ke bumi. Noktah itupun dimakan oleh ayam kate tersebut . Kehendak Dewata tidak dapat diingkari. Ayam tersebut kemudian bertelur sebutir. Prabu Aji Saka sangat malu dengan peristiwa tersebut, inilah pembalasan ular naga yang mati di bunuhnya. Selanjutnya telur itulah yang kemudian berubah menjadi seekor ular yang meminta pertanggungjawaban dari sang prabu. Sang prabu yang mengetahui hal tersebut kemudian membuat keputusan bahwa beliau akan mengakui sang ular sebagai anaknya apabila si jaka linglung begitu sebutan ular tersebut, mampu mengalahkan musuh sang prabu yaitu dewata cengakar yang kini menjelma menjadi buaya putih dan bersemayam di pantai selatan. jaka lilinglung yang menyanggupinya kemudian langsung berangkat menuju pantai selatan melalui bawah tanah sesuai syarat sang prabu yang tidak ingin menakuti penduduk sekitar. Sesampainya di pantai selatan jaka linglung bertemu dengan ratu pantai selatan yang kala itu sedang sedih karena rakyatnya diganggu oleh buaya putih jelmaan dewata cengkar. atas kesepakatan bersama jaka linglung maw membantu sang ratu dengan imbalan dia akan dinikahkan dengan salah satu dari putri beliau. sambil menyelam minum air :D :D. Kenyataannya jaka linglung berhasil mengalahkan buaya putih tersebut dan sesuai janji akhirnya jaka linglung menikah dengan retno blorong (nyi blorong) anak dari ratu kidul. jaka linglung yang berhasil mengalahkan buaya putih tersebut, kembali menemui sang prabu untuk meminta pengakuan. bersama blorong dia kembali ke medang kamulan dengan melewati jalur bawah tanah sama seperti ketika dia berangkat. Dia mengarah ke barat, lewat Samudra, masuk ke dalam tanah, timbul kembali di tanah pasundan. Masuk ke tanah lagi timbul di Jawa Tengah itu sebabnya di Jawa banyak ditemukan sumber air yang mengandung garam ( Bleng ), sebab sumber itu merupakan petilasan Jaka Linglung tersebut. Dalam perjalanannya diteruskan ke timur lewat bawah tanah dan muncul kembali ke Demak di Desa Walak. Masuk ke tanah lagi dan muncul kembali di Grobogan dan berhenti di rawa – rawa garam . Dari Ngembak ( Rawa – rawa ? ) Jaka Linglung meneruskan perjalanan ke Banyuwangi, terus ke Jana Cerewek, ke Banjar, Dikil. Di Jati, Jaka Linglung tidur, disitu upasnya jatuh. Tempat jatuhnya upas itu kemudian dinamakan Desa Gasak. Disinilah kemudian ada “Bleduk Upas“ yang tidak dapat dimakan. Jaka Linglung melanjutkan perjalanan sampai ke Kuwu. Disini agak lama. Dari Kuwu inilah Jaka Linglung datang menghadap Prabu Jaka di Medang Kamulan sejak itulah dia diterima sebagai Putera Prabu Jaka. Oleh Prabu Jaka, Jaka Linglung diangkat sebagai Putra Mahkota dengan gelarnya Prabu Anom Linglung Tunggul Wulung. Istana Kadipaten kemudian dipindahkan ke Desa Kesanga. Sedang istrinya Retno Blorong ditempatkan di Grobogan di Desa Ngembak, wilayah Medang Kana. Kedaton Kesanga disebut pula Kedaton Kadipaten, Tumenggungan, Kariyan Panggabean atau Kranggan. Beberapa waktu menjadi Adipati Anom Tunggul Wulung kemudian pergi bertapa di Tunggul Wulung Kesanga.

Lepas dari cerita Bledug Kuwu kita beralih sejenak ke kisah ki ageng selo. Saya ceritakan sedikit tentang pohon keluarga dari Ki ageng selo. Menurut cerita dalam babad tanah Jawi (Meinama, 1905; Al – thoff, 1941), Ki Ageng Selo adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki – laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya . Cerita lengkap ki ageng selo klik disini

Nah sekarang sedikit ada penjelasan mengenai hubungan darah antara ki ageng selo dengan lembu peteng kan?? Jadi bisa disimpulkan bahwa lembu peteng atu ki bondan kejawan adalah kakek dari ki ageng selo. Lalu apa hubungannya dengan Bledug kuwu???

Kita tahu bahwa terbentuknya bledug kuwu disebabkan karena kepulangan jaka linglung yang menempuh jalur tanah dan kita ketahui ketika jaka linglung kembali dia sudah beristrikan retno blorong atau akrap kita sebut nyi blorong. Disini korelasinya!! Ki bondan kejawen setelah dewasa dia diasuh oleh jaka tarub dimana jaka tarub itu sendiri mempunyai seorang istri bidadari bernama nawang wulan. Dikisahkan bahwa nawang wulan adalah seorang bidadari yang tidak bisa kembali ke kahyangan disebabkan selendangnya dicuri oleh jaka tarub yang kemudian menjadi suaminya. Dalam hubungannya Nawang wulan tidak mengetahui kalau ternyta jaka tarublah yang membuatnya tidak bisa kembali ke kahyangan, namun pada suatu hari akhirnya nawang wulan mengetahuinya dan akhirnya meninggalkan suami dan anaknya yang kala itu baru berusia 5 tahun. Lama di kahyangan nawang wulan merasa rindu dengan keluarganya dan memutuskan untuk kembali ke dunia dengan berbagai resiko yang ditanggungnya. Maka dilanjutkanlah kehidupannya di dunia bersama anak dan suaminya samapi pada suatu ketika saat itu tiba. nawang wwulan telah mengetahui bahwa anak laki-lakinya akan meninggal pada usia 20 tahun karena sakit dan saat putranya meninggal dia harus mengabdi pada seseorang yang tak lain adalah retno blorong atau nyi blorong. Yups bener, nyi blorong yang menikah dengan jaka linglung putra ajisaka. dewi nawang wulan diangakt menjadi anak oleh nyi blorong dan tinggal selamanya disana meninggalkan jakata tarub dan anak keduanya nawangsih yang nantinya akan menikah dengan ki bondan kejawen atau lembu peteng kakek dari ki ageng selo. Nah sekarang sudah bisa menyimpulkan silsilah dan korelasi dari ke3 tempat wisata tersebut??

Singkatnya begini, bisa dikatakan bahwa ki ageng selo adalah cicit dari nyi blorong dan (yang paling bawah dari cicit pa yah?? ) dari ajisaka, sang pembuka jalan pertama kali dalam masuknya islam di indonesia.

Tolong komentnya yah… :) :)

2 Komentar

  1. Wah bagus ni ulasannya..
    BTW cerita tentang Bledhug Kuwu itu terjadi pada abad berapa ya kira-kira?
    Soalnya setahuku Ki Ageng Selo tu emang bener-bener ada, sementara jaka Tarub dan Nawang Wulan cuman legenda, jadi bingung?hhe

    • ya namanya ja legenda pasti jaman serta penanggalannya g bs dipastiin… pi da satu kslahn yg saya buat di tulisan itu kawan… bhwa ternyta nyi blorong tdk mngkt nawang wulan menjadi anknya tapi mnjdi sodra permpuannya… nah kalo kalarsya mau tau pempat pesanggrahannya itu da di daerah parangkusumo, begitu yg aku denger… mksih yah kawan dah mampir… :)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.